TRAINING IRRDB DI MALAYSIA

April 2, 2009

Ditulis oleh Titik Widyasari (Peneliti Junior – Sosial Ekonomi BalitGetas)

Training dilaksanakan selama 1 bulan, tanggal 11Oktober-11November 2008 diselenggarakan oleh Internasional Rubber Research and Development Board (IRRDB) yang diikuti oleh perwakilan dari negara-negara produsen karet alam, seperti Indonesia, Thailand, Sri Langka, Vietnam, Malaysia, Filipina, Kamboja dan Kamerun.

Acara training adalah konfrensi internasional di One World Hotel, Petaling jaya, dan dilanjutkan dengan training di Malaysian Rubber Board (MRB) atau Lembaga Getah Malaysia (LGM).

Balai Penelitian Getas sebagai bagian dari Pusat Penelitian Karet mengirim saya, peneliti sosial ekonomi untuk mengikuti training, dan mendalami perihal Transfer of Technology Karet di Malaysia.

Dengan bimbingan para peneliti dan karyawan LGM, saya banyak belajar bagaimana mentransfer teknologi karet di Malaysia. Kunci keberhasilan transfer teknologi adalah adanya kerjasama terpadu antara pihak pemerintah dan LGM serta kesiapan teknologi yang aplikatif dan teruji.

Teknologi yang diterapkan antara lain stimulan lateks G-FLEK, RRIMFLOW, REACTORRIM dan MORTEX yang diterapkan di lahan-lahan karet milik petani. Bentuk kerjasama ini adalah saling menguntungkan, di pihak petani, akan mengalami peningkatan produksi lateks (so pasti akan meningkatkan pendapatannya) dan memperoleh bantuan berupa perlengkapan stimulan lateks beserta mangkuk sadap & pisau sadapnya yang diberikan hanya satu kali di tahun pertama penggunaan stimulan lateks sedangkan di pihak LGM akan mendayagunakan lahan petani tersebut sebagai tempat untuk penelitian, pengambilan data serta analisis atas penelitian yang diterapkan. Meskipun kerjasama ini baru berjalan 1 tahun, banyak petani yang telah merasakan manfaatnya. Namun ada juga yang ketakutan phobia akan produksi lateks yang terlalu melimpah, karena ada yang khawatir akan terjadinya Kering Alur Sadap (KAS) padahal kebun karet mereka merupakan sumber mata pencaharian utama hidupnya.

Selain itu, di transfer teknologi LGM juga ada fasilitas layanan harga karet alam via sms, bantuan kredit lunak untuk penanaman kebun karet, ketrampilan membuat bunga “getah” (bunga yang dibuat dari lateks) dan kebun contoh misalnya RRIMINIS Iskandar. Kebun dibawah pengelolaan LGM, dimana semua teknologi hasil LGM diterapkan termasuk penyadap yang khusus dipersiapkan dan difasilitasi oleh LGM. Kebun ini sebagai percontohan dan tempat untuk pelatihan para petani yang ingin menerapkan teknologi karet di kebunnya.

Sekian cerita dari saya, semoga menambah inspirasi kita untuk memajukan dunia perkaretan Indonesia…

ps: foto menyusul yah…