SEJARAH DAN PROSPEK PENGEMBANGAN KARET

Juli 21, 2009

Oleh : Akhmad Rouf (Kelti Agronomi)

Karet pertama kali dikenal di Eropa, yaitu sejak ditemukannya benua Amerika oleh Christopher Columbus pada tahun 1476. Orang Eropa yang pertama kali menemukan ialah Pietro Martyre d’Anghiera. Penemuan tersebut dituliskan dalam sebuah buku yang berjudul De Orbe Novo (Edisi 1530). Pada tahun 1730-an, para ilmuwan mulai tertarik untuk menyelidiki bahan (karet) tersebut.

Istilah rubber pada tanaman karet mulai dikenal setelah seorang ahli kimia dari Inggris (tahun 1770) melaporkan bahwa, karet dapat digunakan untuk menghapus tulisan dari pensil. Kemudian masyarakat Inggris mengenalnya dengan istilah Rubber (dari kata to rub, yang berarti menghapus). Pada dasarnya, nama ilmiah yang diberikan untuk benda yang elastis (termasuk karet) ialah elastomer, tetapi istilah rubber-lah yang lebih populer di kalangan masyarakat pada waktu itu.

Pada awal abad ke-19, seorang ilmuwan bernama Charles Macintosh dari Skotlandia, dan Thomas Hancock mencoba untuk mengolah karet menggunakan bahan cairan pelarut berupa terpentin (turpentine). Hasilnya karet menjadi kaku di musin dingin dan lengket di musim panas. Hingga akhirnya Charles Goodyear pada tahun 1838 menemukan bahwa dengan dicampurkannya belerang kemudian dipanaskan maka keret tersebut menjadi elastis dan tidak terpengaruh lagi oleh cuaca. Sebagian besar ilmuwan sepakat untuk menetapkan Charles Goodyear sebagai penemu proses vulkanisasi. Penemuan besar proses vulkanisasi ini akhirnya disebut sebagai awal dari perkembangan industri karet.

Menidaklanjuti apa yang disampaikan Charles Marie de la Condamine dan Francois Fresneau dari Perancis bahwa ada beberapa jenis tanaman yang dapat menghasilkan lateks atau karet, kemudian Sir Clement R. Markham bersama Sir Joseph Dalton Hooker berusaha membudidayakan beberapa jenis pohon karet tesebut. Hevea brasiliensis merupakan jenis pohon karet yang memiliki prospek bagus untuk dikembangkan dibanding jenis karet yang lainnya.

Pada saat Perang Dunia II berlangsung, ketersediaan karet alam mengalami penurunan yang cukup drastis. Kemudian pemerintah Amerika mendorong penelitian dan produksi untuk menghasilkan karet sintetik guna memenuhi kebutuhan yang mendesak. Usaha besar ini lambat laun mengakibatkan permintaan terhadap karet sintetis meningkat pesat sehingga mengurangi permintaan karet alam. Dalam jangka waktu 3 tahun sesudah berakhirnya Perang Dunia II, sepertiga karet yang dikonsumsi oleh dunia adalah karet sintetik. Pada tahun 1983, hampir 4 juta ton karet alam dikonsumsi oleh dunia, sebaliknya, karet sintetik yang digunakan sudah melebihi 8 juta ton dan terus bertambah hingga sekarang. Hasil studi dari Task Force Rubber Eco Project (REP) yang dibentuk oleh International Rubber Study Group (IRSG) pada tahun 2004 menyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 diperkirakan mencapai 31,3 juta, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam.

Di Indonesia sendiri, tanaman karet pertama kali diperkenalkan oleh Hofland pada tahun 1864. Awalnya, karet ditanam di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman koleksi. Selanjutnya karet dikembangkan menjadi tanaman perkebunan dan tersebar di beberapa daerah. Sejarah karet di Indonesia mencapai puncaknya pada periode sebelum Perang Dunia II hingga tahun 1956. Pada masa itu Indonesia menjadi negara penghasil karet alam terbesar di dunia. Namun sejak tahun 1957 kedudukan Indonesia sebagai produsen karet nomor satu digeser oleh Malaysia. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya mutu produksi karet alam di Indonesia. Rendahnya mutu membuat harga jual di pasaran luar negeri menjadi rendah.

Meskipun demikian komoditas karet masih berpengaruh besar terhadap perekonomian negara. Karet mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa negara. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada tahun 2004 mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995, dan 1,9 juta ton pada tahun 2004. Sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan produksi mencapai 3,5 juta ton, dan tahun 2035 mencapai 5,1 juta ton.

Sumber :

Anwar, C. 2006. Manajemen dan teknologi budidaya karet. Makalah pelatihan “Tekno Ekonomi Agribisnis Karet” . 18 Mei 2006. Jakarta.

Tim Penulis PS. 2008. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya. Jakarta.

Spillane, J.J. 1989. Komoditi Karet. Kanisius. Yogyakarta.

Woodruff, W. 1970. Rubber. Encyclopedia Britannica. 1970. Vol : 19.


TRAINING IRRDB DI MALAYSIA

April 2, 2009

Ditulis oleh Titik Widyasari (Peneliti Junior – Sosial Ekonomi BalitGetas)

Training dilaksanakan selama 1 bulan, tanggal 11Oktober-11November 2008 diselenggarakan oleh Internasional Rubber Research and Development Board (IRRDB) yang diikuti oleh perwakilan dari negara-negara produsen karet alam, seperti Indonesia, Thailand, Sri Langka, Vietnam, Malaysia, Filipina, Kamboja dan Kamerun.

Acara training adalah konfrensi internasional di One World Hotel, Petaling jaya, dan dilanjutkan dengan training di Malaysian Rubber Board (MRB) atau Lembaga Getah Malaysia (LGM).

Balai Penelitian Getas sebagai bagian dari Pusat Penelitian Karet mengirim saya, peneliti sosial ekonomi untuk mengikuti training, dan mendalami perihal Transfer of Technology Karet di Malaysia.

Dengan bimbingan para peneliti dan karyawan LGM, saya banyak belajar bagaimana mentransfer teknologi karet di Malaysia. Kunci keberhasilan transfer teknologi adalah adanya kerjasama terpadu antara pihak pemerintah dan LGM serta kesiapan teknologi yang aplikatif dan teruji.

Teknologi yang diterapkan antara lain stimulan lateks G-FLEK, RRIMFLOW, REACTORRIM dan MORTEX yang diterapkan di lahan-lahan karet milik petani. Bentuk kerjasama ini adalah saling menguntungkan, di pihak petani, akan mengalami peningkatan produksi lateks (so pasti akan meningkatkan pendapatannya) dan memperoleh bantuan berupa perlengkapan stimulan lateks beserta mangkuk sadap & pisau sadapnya yang diberikan hanya satu kali di tahun pertama penggunaan stimulan lateks sedangkan di pihak LGM akan mendayagunakan lahan petani tersebut sebagai tempat untuk penelitian, pengambilan data serta analisis atas penelitian yang diterapkan. Meskipun kerjasama ini baru berjalan 1 tahun, banyak petani yang telah merasakan manfaatnya. Namun ada juga yang ketakutan phobia akan produksi lateks yang terlalu melimpah, karena ada yang khawatir akan terjadinya Kering Alur Sadap (KAS) padahal kebun karet mereka merupakan sumber mata pencaharian utama hidupnya.

Selain itu, di transfer teknologi LGM juga ada fasilitas layanan harga karet alam via sms, bantuan kredit lunak untuk penanaman kebun karet, ketrampilan membuat bunga “getah” (bunga yang dibuat dari lateks) dan kebun contoh misalnya RRIMINIS Iskandar. Kebun dibawah pengelolaan LGM, dimana semua teknologi hasil LGM diterapkan termasuk penyadap yang khusus dipersiapkan dan difasilitasi oleh LGM. Kebun ini sebagai percontohan dan tempat untuk pelatihan para petani yang ingin menerapkan teknologi karet di kebunnya.

Sekian cerita dari saya, semoga menambah inspirasi kita untuk memajukan dunia perkaretan Indonesia…

ps: foto menyusul yah…


Koneksi IM2 di Balitgetas

Januari 14, 2009

Disclaimer: Bukan membela, mempromosikan  atau mendiskreditkan Produk tertentu …

Daerah Mega di Central Java itu sebelah Mana ya?
Daerah Mega di Central Java?

Pada suatu hari minggu yang lalu saya iseng melihat alamat IP pengunjung blog ini melalui widget FeedJit di kolom sebelah kanan. Disitu saya melihat ada dari “Mega, Central Java”. Lhah di Jawa Tengah ada daerah namanya Mega yah? Iseng – iseng saya search di Google dengan keyword “mega central java” hasilnya? Saya kok tidak menemukan penjelasan lebih lanjut. Jadinya penasaran mode still On.

Hari selasa 13 Januari 2009, kebetulan saya meminta sales dari IM2 Salatiga yaitu mas Ilham untuk datang ke kantor saya dengan tujuan mencoba koneksi IM2 di daerah Getas Salatiga. Karena apabila koneksi di Getas bisa dapat koneksi 3G saja (3,5 G hanya didapat di Salatiga kota dan Cuma 3 BTS-nya), maka saya ingin membeli IM2 buat mobile. Akan tetapi sayang sekali.. sinyal yang didapat cuma GPRS.

Niat untuk membeli IM2 Broom akhirnya saya tunda dulu, karena rugi rasanya kalo saya membayar 100 ribu per bulan untuk koneksi GPRS. Iseng – iseng juga saya coba buka speedtest.net. Sampai 8 menit koneksi, kok nggak muncul juga halaman web speedtest.net. Ya sudah.. karena ‘mentok’, akhirnya saya membuka speedtest punyanya situsnya IM2. Kemudian saya test koneksinya via GPRS IM2 Broom ini.

Hasilnya?  Nge-ping aja 1869 ms, download: 37 kbps, Upload: 7 kbps.

 

Hasil speedtest di website-nya IM2
Hasil speedtest di website-nya IM2

Ouh makanya lambat.. sebelum saya mengakhiri koneksi via IM2 Broom, saya iseng (lagi!!?!!) membuka blog ini. Secara sengaja, saya melihat di kolom alamat IP pengunjung: Walah.. ternyata ke-detect Mega, Central Java!! Ouh jadinya kalo browse pakai IM2 Broom itu lokasi IP-nya Mega ya? Paham saya sekarang…

Catatan: gambar screenshot sudah ditambahkan..  Btw jumlah komen di blog ini kok jadi “&” yah? Penasaran mode: Still ON.


Selamat Menyambut Tahun Baru 2009…!

Desember 31, 2008

Hari ini, terakhir di 2008. Marilah kita songsong 2009 esok hari dengan penuh SEMANGAT!!
(Borong Terompet Mode: ON!)


A Nice Little Gift

Desember 22, 2008

 

Stiker sudah nempel di 2920z

Stiker sudah nempel di 2920z, sayang fotonya tidak begitu jelas.

Hari itu Sabtu, 20 Desember 2008. Saya berada di Jogja, rencananya mau upgrade sodimm buat 2920z saya. Selain itu, saya mendapat tugas tambahan dari Pak Supriyanto Puslit untuk membeli Peta Rupa Bumi Pulau Laut Kalimantan Selatan di Pusat Pemetaan dan Informasi Kebumian (PPIK), yang berada di Ruko UGM No. 2, Jl.Agro Bulaksumur Yogyakarta.

Ternyata PPIK hari sabtu gini tutup, ya sudah, saya pun bergegas menuju beberapa toko komputer tuk hunting sodimm DDRII 2GB Corsair. Hasilnya? Tidak ada alias belum nemu. Adanya Kingston, itu pun harganya Rp 400-450 ribu. Ok, kalo begitu saya akan order dari salah satu toko online terpercaya, dimana Corsair dan kingston dijual sama yaitu $25 yaitu sekitar 280rb+ongkos kirim 25 ribu. Masih lebih murahlah.. dan yang penting saya dapat Corsair idaman saya.. :)

Next.. saya mampir ke Amplas (Ambarukmo Plasa), mo cetak foto. Setelah order cetak foto selesai rencananya mau pulang ke Klaten. Eh ternyata hujan kok ya makin deras.. ya sudah, saya pun naik ke lantai 4 dan memilih tempat duduk di dekat pojokan yang sepi (biar gak banyak keganggu orang yang lalu lalang), mengeluarkan laptop dan On Line lah saya dengan WiFi gratisan di Amplas, seperti biasanya..

Sambil mendengarkan musik menggunakan headphone, sekitar ½ atau 1jam kemudian tiba – tiba ada suara dari sebelah belakang kiri saya.. “Mas.., ini buat mas-nya..” sambil mengulurkan sesuatu. Saya pun terkaget dan reflek menerima secarik putih dari Mas-nya tadi. Saya kemudian membaca: Ada logo Ubuntu dan tulisan: Powered by UBUNTU Linux. Ouwh ternyata stiker.. saya kemudian menoleh ke kiri mencari Mas – Mas yang memberi saya stiker tadi. Lhoh.. masnya tadi mana yah? Kok udah gak ada.. atau sebenarnya masih ada di dekat saya tapi karena saya tadi gak ngeh siapa yang ngasih gitu.. maklum.. lumayan rame disitu.

Mungkin sih, masnya tadi lihat saya sedang OL pake Ubuntu, jadi dikasih deh itu stiker. Yaaah.. mas – mas… saya sih seneng bgt dikasih stiker. Tapi, kalo seandainya mas itu setelah ngasih stiker gak terburu – buru pergi, saya itu malah mau nanya..: “Masnya punya Ubuntu 8.10? saya mau mengcopy tuh CD duonk..”. Karena kok tumben, CD ship it saya kok belum nyampe – nyampe ke salatiga… Download? Koneksi lagi lelet bos..

So.. ini Mas.. stiker yang Mas kasih ke saya sudah saya tempel nih d Lappie saya.. Btw, tnx a lot yah. Hmmph.., a nice little gift for me… :)

Oh Iya.. hari ini hari Ibu yah? Selamat hari ibu untuk ibu maupun calon ibu dimanapun berada.., semoga semakin sayang dan disayang oleh keluarga masing – masing… :)


Versaveter: Konverter Unit Fisika Ringan & Free

Desember 10, 2008

Bingung menghitung konversi suhu dari Celcius ke Fahrenheit? Atau mengubah kecepatan dari km/jam ke m/detik? Atau banyak konversi Unit Fisika yang lain?

Waktu SMU dulu kita sudah diajari untuk mengetahui prinsip dan cara perhitungan konversi Unit Fisika secara manual. Setelah tahu, maka kita perlu suatu tool yang bisa mempercepat kerja dan tetap dengan hasil yang akurat, terutama apabila dihadapkan pada deadline.

Salah satu tool favorit dalam mengkonversi satuan fisika, adalah Versaveter dari The PawPrint.network, yang terakhir update adalah 3.0.0.178 keluaran 10 Februari 2004. Sedangkan update Unit Data terakhir adalah 2.2.2.0 keluaran 7 November 2005 dan mendukung hingga 1097 Unit fisika.

Ringan, Mudah dan Freeware

Versaveter: Ringan, Mudah dan Freeware

Silahkan download paket .zip di sini dan silahkan dieksplorasi sendiri karena tool ini sangat mudah, ringan dan yang pasti freeware.

Saya adalah pengguna Versaveter ini mulai versi 1.5 ketika masih duduk di bangku kuliah dulu dan langsung familiar dalam aplikasinya. Mungkin freeware ini sudah banyak yang memakai, tetapi saya hanya ingin berbagi kepada teman – teman yang mungkin belum tahu dan membutuhkannya.


Idul Adha 1429 H

Desember 8, 2008

Kami semua di Balitgetas mengucapkan:

SELAMAT IDUL ADHA 1429 H

Jangan lupa berbagi dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan.

(Mode Bakar Sate Kambing: ON)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.